More Pisang Please ...

≈ MaKlumat ≈

Terhitung Mulai Tanggal 9 Juni 2009, Kelima blog (beserta seluruh Kontennya) atas nama Mbah MD sudah dilimpahKan Kepada CiPung aKa PungguK KooKKaburra.

Sebagai pewaris tahta Kerajaan KooKKaburra Bisnis Inc. THUS pemiliK tunggal (pemegang 100% saham) PungguK KooKKaburra (selanjutnya disebut "Owner"), memiliKi tanggung jawab dan Kewenangan sepenuhnya terhadap blog-blog tersebut.

MaKlumat ini dapat diubah dalam waKtu seKonyong-Konyong tanpa pemberitahuan sebelum dan sesudahnya.

ttd.

Owner
≈ PungguK KooKKaburra ≈

Showing posts with label Kookkaburra di KoKi. Show all posts
Showing posts with label Kookkaburra di KoKi. Show all posts

Tuesday, 5 February 2008

Idul Fitri 2007

(Kookkaburra - Inggris)

Kepada tim redaksi KoKi dan seluruh Kokiers di jagad maya, Kookkaburra mengucapkan:

Semoga dengan diluncurkannya dalam format baru di bulan November nanti, pohon KoKi menjadi lebih solid, rimbun dan bertambah mantap berjalan di jalur CJ.

Semoga profil dan head-shot (foto) dari penulis yang bersedia ditayangkan dapat meningkatkan kredibilitas KoKi. Marilah kita bahu-membahu untuk mewujudkan CJ terbesar yang berbasis di Indonesia.

Sebentar lagi mentari kan terbenam, untuk kemudian terbit dengan warna dan semangat baru – semangat CJ ala KoKi yang meskipun berbeda dan jauh, tetapi sama dan dekat. Bersama kita sejajar, bersama kita belajar.

Salam, Kookkaburra.

(Dikirim via email pada hari Wed, 10 Oct 2007 03:59:26 -0700 (PDT) dan diterbitkan di KoKi edisi Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin Ya! - Idul Fitri, Kamis 11 Oktober 2007 13:48 wib.)

Monday, 4 February 2008

Turut Berduka Cita

(Kookkaburra - Old Gum Tree)


(Dikirim via email pada hari Wed, 16 Jan 2008 12:41:54 -0800 (PST) dan diterbitkan di KoKi edisi Presiden AS: Gender & Rasisme, Masa Remaja & Soeharto - KoKiSiana: Simpati Untuk Oca, Kamis 17 Januari 2008 21:57 wib.)

Not “Adieu,” But “Au Revoir”

(Kookkaburra - Inggris)

Gerhana di Bulan Agustus

Akhirnya dia datang juga
Dengan semburat merah muda
Adakah selendangmu terkoyak?

Musim panas telah mengeringkan telaga
Bergeming, ditatapnya ke bawah
Tiada bisa memantulkan kemilaunya

Nun ditanah dimana gubuk reot itu didirikan
Tumbuh menjulang sebuah pohon besar
Dengan rantingnya yang rindang

Akarnya menusuk bumi
Menembus lima benua dan tujuh samudra
Tergoyahkan tidak

Kursi taman itu pun ‘kan menjadi saksi
Apabila gerhana menjelang lagi …
Dan air kembali terhimpun di dalam telaga

Dia bercermin dan menurunkan cahayanya
Menyeruak diantara dedaunan nan rimbun itu
Lalu ia berkata: “I am HOME.”

(Dikirim via email pada hari Tue, 28 Aug 2007 12:59:46 -0700 (PDT) dan diterbitkan di KoKi edisi Pink Story, Homeless & Made in China Rabu 29 Agustus 2007 19:31 wib.)

Selamat Ulang Tahun KoKi

(Kookkaburra - Inggris)

Foto dikirim via email pada hari Thu, 23 Aug 2007 05:40:26 -0700 (PDT) dan diterbitkan di Koki edisi Google Sky, Best Friend & Selamatkan Kutub! - Topik hari ini: (Masih) Edisi Ulang Tahun KoKi ke-2, Sabtu 25 Agustus 2007 1:01 wib.)

Note: One photo added by Mbah MD.

Library Carrels: Rumahku, Kantorku, Kamarku

(Kookkaburra - Inggris)

Niat menulis tentang foto ini sebenarnya sudah agak lama, tapi baru terlaksana setelah membaca tulisan “Ruang Komputer di Perpustakaan” kiriman Ibu Dokter Malindo yang calon Doktor itu. (Bagaimana Bu? Sudah submit belum? Sukses ya …)

Foto yang Kookkaburra beri caption “Suatu Hari Ketika Salju Turun di Bulan Februari” ini diambil dari lantai tiga perpustakaan, dimana Kookkaburra biasa “bekerja”. Diawal bulan Februari yang lalu salju tiba-tiba saja menurunkan butiran-butiran putihnya nan indah di kota dimana Kookkaburra tinggal. Dalam sekejap, suasana kampus menjadi arena “penyembahan” snowman dan medan perang bola-bola salju bagi mahasiswa di kampus Kookkaburra. Teriakan-teriakan kegirangan dari arah bawah membuat Kookkaburra yang sedang stress dikejar-kejar tenggat waktu untuk melihat ke bawah, mencari tahu mahu :) apa yang terjadi. Hmm… rupanya ada keceriaan dibawah sana.

Kookkaburra berhasil merekam kegiatan bersalju-ria itu hanya dengan dua kali jepret dan foto yang terekam lumayan bagus meskipun objeknya kecil sekali. Pengambilan gambar ini memerlukan sedikit perjuangan karena keterbatasan ruang gerak disisi jendela. (Semenjak terjadinya insiden mahasiswa yang terjun bebas alias bunuh diri dari jendela perpustakaan, seluruh jendela dimodifikasi sedemikian rupa sehingga jendela hanya dapat dibuka dengan kemiringan kira-kira 30 derajat - ada semacam penahan.) Kalau diperhatikan dengan seksama, ada dua orang yang sedang berpose disebelah kanan dan kiri snowman. Sedangkan sosok yang sepertinya berlutut itu tentu saja sedang mengambil foto kedua orang tersebut. Sementara itu ada dua kubu yang sedang lempar-melempar bola salju, terlihat yang dipojok kanan dekat pohon siap-siap melempar. Seorang pejalan kaki terlihat terkesima melihat keadaan dan keriuhan yang ada, sedangkan yang berada di dekat parkiran sepeda sepertinya sedang menikmati rokoknya. Coba tebak, kendaraan Kookkaburra yang mana?

Ada baiknya apabila Kookkaburra bercerita lebih jauh tentang “kantor” Kookkaburra yang disebut “carrel” ini. Apa itu Library Carrels? Library carrels adalah ruangan-ruangan kecil dalam perpustakaan yang biasanya dialokasikan untuk mahasiswa tingkat doktoral. Di perpustakaan yang berlantai lima ini carrel hanya terdapat di lantai 2, 3 dan 5. Setiap awal tahun akademik, di minggu pertama semester musim gugur (autumn term) Graduate School Office biasanya mulai mengedarkan formulir pendaftaran untuk aplikasi carrel ini. Adapun kepemilikan carrel ini hanya berlaku untuk satu tahun dan setiap mahasiswa program S3 yang masih ingin memiliki carrel ini pada tahun berikutnya harus mengisi formulir lagi. Syarat untuk memperoleh fasilitas ini antara lain harus mau berbagi dengan satu mahasiswa lagi, jadi setiap carrel harus ditempati oleh dua orang. Selain itu, pemegang kunci utama diwajibkan membayar deposit sebesar £5 yang hanya akan diperoleh kembali apabila kunci carrel dikembalikan sebelum/pada tenggat waktu yang telah ditentukan (biasanya di bulan November).

Tentu saja Kookkaburra tidak mau melewatkan kesempatan ini. Apabila dibandingkan dengan fasilitas di Business School maupun School of Engineering, departemen Kookkaburra termasuk yang miskin. Di program bisnis, misalnya ada common room untuk mahasiswa PhD yang bisa ditempati oleh beberapa orang dimana “free fotocopy” dan “free printing” termasuk bagian dari kemudahan dan keringanan yang diberikan. Di pusat riset tempat Kookkaburra melakukan penelitian, fasilitas tersebut tidak ada. Maka salah satu cara untuk dapat belajar dengan tenang dan terhindar dari “aroma non-terapi” dan suara-suara “hush … berisik” adalah dengan menempati carrel. Suasana perpustakaan sebenarnya cukup tenang dan tertib. Hal ini mungkin dikarenakan dengan diberlakukannya denda £10 bagi mahasiswa yang membuat keributan. Siskamling yang dilakukan oleh library steward, biasanya mahasiswa yang kerja paruh waktu, yang dipekerjakan pada musim-musim ujian untuk menjaga keamanan dan kenyamanan di perpustakaan, dapat menciptakan suasana perpustakaan yang aman terkendali.

Pada tahun pertama, Kookkaburra tidak mengajukan aplikasi karena informasi mengenai pendaftaran terlambat diterima. Mulai tahun kedua lah Kookkaburra terus-menerus menempati carrel ini. Banyak suka-duka dan “kenakalan-kenakalan” yang Kookkaburra lakukan di dalam carrel tersebut.

Waktu mengisi formulir untuk pertama kali, Kookkaburra janjian sama teman Kookkaburra agar kami berdua bisa menempati carrel yang sama. (Di dalam formulir ada bagian dimana kita bisa mencantumkan nama teman yang mau share dengan kita. Apabila kita tidak punya nama/teman, bagian itu dapat dikosongkan dan Graduate School Office lah yang akan “menjodohkannya”.) Kebetulan teman Kookkaburra lah yang ditunjuk menjadi pemegang kunci, sehingga dia lah yang mengatur pembagian hari/jam penggunaan carrel tersebut dan Kookkaburra “nrimo” saja. Meskipun di dalamnya tersedia dua buah kursi, ukuran carrel yang pas-pasan itu membuat carrel kurang nyaman dipergunakan berdua pada saat yang bersamaan (kecuali kalau “pasangannya” adalah pacar dewe, hehehe). Pada tahun-tahun terakhir, Kookkaburra mulai beruntung, dimana “carrel-mate” Kookkaburra tidak berminat menggunakan carrel tersebut, sehingga Kookkaburra dapat menempati carrel itu sendirian selama satu tahun penuh. Tahun sebelumnya Kookkaburra meminta housemate Kookkaburra agar namanya dicantumkan dalam formulir, meskipun dia tidak berniat menggunakan carrel tersebut. (Bukan contoh yang baik, so … please do as I say not as I do.)

Ada kejadian-kejadian lucu dan nahas seperti dua kali kekancingan diluar, hahaha! (Kuncinya model dead bolt, yang dapat dikunci/terkunci tanpa anak kunci). Tentu pembaca dapat membayangkan betapa kunci carrel, kunci rumah dan kartu mahasiswa ketinggalan di dalam dan baru terselamatkan oleh library porter yang siap sedia dengan kunci duplikat. Hal yang cukup mengejutkan Kookkaburra adalah ketika petugas perpustakaan itu membukakan pintu carrel tanpa ba-bi-bu, tanpa bertanya nama siapa atau meminta menunjukkan identitas lain, hanya menanyakan nomor carrel-nya saja. Dasarnya hanya PERCAYA.

Kekancingan yang kedua kali terjadi pada pagi dini hari setelah lewat jam kantor (perpustakaan normalnya buka dari jam 8:30 – 00:00, tetapi pada musim-musim ujian buka sampai jam 02:00 pagi), dimana tak ada seorang full-time staff pun yang dapat menolong Kookkaburra (yang ada hanyalah security yang notabene adalah mahasiswa yang nyambi kerja paruh waktu). Untungnya kunci rumah, kamar dan sepeda berada di dalam jaket yang Kookkaburra kenakan dan pulanglah Kookkaburra tanpa membawa tas ransel dengan segala isinya yang masih terkunci di carrel. Rumah bisalah dimasuki dengan bantuan teman satu kos, tetapi kamar Kookkaburra? Kebayang tidak kalau Kookkaburra harus tidur di sofa rumah atau di IT center yang buka 24 jam itu? Kookkaburra hanya dapat mengurus insiden tersebut pada jam kantor. Setelah dua kali kekancingan Kookkaburra lalu memutuskan untuk memakai “kalung” dimana kunci carrel tergantung di leher Kookkaburra setiap kali Kookkaburra berada di perpustakaan.

Kenakalan atau pelanggaran Kookkaburra yang lain yaitu ketika Kookkaburra kelupaan mengeluarkan buku-buku maupun jurnal-jurnal setelah selesai di baca. Terkadang Kookkaburra malahan dengan sengaja menyimpan buku-buku tertentu, milik perpustakaan yang belum di check out, di dalam carrel selama beberapa hari (maaf ya sesama teman dan peneliti – mohon kebiasaan jelek Kookkaburra ini jangan ditiru. Again, do as I say not as I do, hehehe.) Jatah peminjaman maksimum 20 buah buku tidaklah cukup. Secara berkala, petugas perpustakaan yang juga punya akses ke setiap carrel selalu mengecek seluruh carrel. Apabila kedapatan ada buku perpustakaan yang bukan “on loan,” buku-buku tersebut akan dikeluarkan dan di kembalikan ke rak-nya masing-masing. Secarik “surat cinta” bertuliskan kata-kata kira-kira seperti ini: “Sejumlah buku telah dikeluarkan dari carrel Anda,” yang diletakkan di atas meja akan menanti Kookkaburra. Akibatnya Kookkaburra harus bolak-balik ke rak mencari buku tersebut atau gigit jari apabila buku tersebut ternyata sudah dipake/dipinjam mahasiswa yang lain. (Selain library porter, petugas perpustakaan, orang yang punya kunci carrel adalah para cleaners yang bertugas mengosongkan keranjang sampah dari tiap-tiap carrel. Hal mana dilakukan seminggu sekali.)

Selain dilengkapi dengan dua buah “kursi direktur,” carrel yang berukuran 2 x 1,5 meter itu berisi meja panjang, rak buku gantung sepanjang dua meter yang letaknya kira-kira setengah meter dari atas meja. Meskipun tidak tersedia komputer, wireless hotspots memudahkan Kookkaburra untuk mengakses H-drive yang ada di sistem komputer IT center melalui komputer pribadi. Pada tahun pertama dan kedua Kookkaburra belum memiliki laptop jadi sebagian file masih ada di file pribadi komputer kampus.

Selain diisi dengan barang-barang keperluan mahasiswa, Kookkaburra juga membawa kulkas kecil (mini cooler dengan kapasitas 6 minuman kaleng), mini water dispenser non listrik, fan-heater, sleeping bag dan bantal. Ini sekolah apa camping ya? Foto “Suatu Hari Ketika Salju Turun di Bulan Februari” mengingatkan Kookkaburra bahwa ada kehidupan lain diluar sana selain aktifitas di ruang berukuran dua kali satu setengah meter ini …

(Artikel dikirim via email pada hari Sun, 20 May 2007 05:18:22 -0700 (PDT) dan diterbitkan di KoKi edisi Impian Pensiun, Tragedi ITC & PLTN - Cerita Foto III, Selasa 22 Mei 2007 15:22 wib.)

Sunday, 3 February 2008

KoKi-Min (Kolom Kita Mini)

(Kookkaburra - Inggris)

Hi Zev, dan para kontributor KoKi & KoKo yang … selalu ketagihan membaca, menulis maupun balapan ‘pertama nih’. Mumpung orang-orang pada sibuk mikirin Prabu edisi cetak, Kookkaburra mau jadi plagiator dulu, bikin KoKi-Min (kalau disetujuin).

Sebelum lanjut membaca tolong di-cek dulu kompor, setrikaan atau jemurannya … jangan sampai ‘kejadian’ hehehe. Ide menulis tentang topik ‘nama’ di edisi pertama KoKi-Min ini (nggak janji dech ada edisi selanjutnya, hehehe …) sebenarnya udah agak lama sih … waktu heboh-hebohnya para prajuritnya Zev memperdebatkan nama asli vs nama samaran, cuma baru kesampaian sekarang. Ceritanya dibagi menjadi 2 bagian, silahkan mau di-scroll up atau scroll down (ternyata kagak bisa di scroll sideways yah … tampilan KoKi kiri/kanan-nya sudah mentok, hehehe).

Disclaimer: Kalau sampai tulisan ini diterbitkan juga, isi menjadi tanggung-jawab yang kebablasan membaca.

Bagian I: HahaHihi Hu…uh (si)ala(n) Kookkaburra

Nama Asli by Kookkaburra

Sesuai dengan InYaMul (Instruksi Yang Mulia) No. 01/01/07 yang pernah diulas di KoKi, para kontributor KoKo TIDAK diwajibkan untuk mencantumkan nama asli sedangkan pengirim artikel disarankan, KALAU BISA, menyertakan nama asli (CMIIW). Berhubung masih saja ada kontra-kontro masalah nama, akhirnya Yang Mulia menunjuk Kookkaburra, yang notabene rakyat jelata dan bekerja paruh waktu sebagai juru ketik, untuk melakukan registrasi ulang terhadap KoKier termasuk para Menteri yang baru saja diangkat. Berikut ini adalah cuplikan liputan seputar pendataan ulang jati diri KoKier dan KoKoer.

K3 (Kookkaburra): Nama?
Kk (KoKier/KoKoer) : Marah Rusdhie

K3: Apakah nama Anda sesuai dengan KTP?
Kk: Sesuai Kook (kependekan dari ‘Kookkaburra’)

K3: Bisa saya lihat KTP asli-nya? Nama Bapak mirip seperti nama novelist eh sastrawan terkenal. M-a-r-a-h R-u-s-l-i-e (Kookkaburra mengeja sambil mengetik.)
Kk: Maaf, Rusdhie bukan Ruslie

K3: Apakah Bapak marah karena saya salah ketik?
Kk: Bukan … tidak … saya adalah saya … saya … iya … iya … saya Marah, Marah Rusdhie.

K3: Next please! Your name please, Sir …
Kk: Saya Raden Radja Goek Goek.

K3: Maaf, mohon tidak mencantumkan gelar.
Kk: Saya tidak punya gelar, saya baru punya sertifikat ST (eS Teler).

K3: Trus Raden dan Radja itu bukannya gelar?
Kk: Bukan Kook, Raden itu asli nama saya. Amang saya marganya Radja Goek Goek dan Inang saya Sitorus, bah. Ini kartu nama saya.

K3: Terima kasih… APhD ini apa? PhD saya tau, kalau A-nya?
Kk: Oh itu … Attempted, hehehe.

K3: Dr Robin Hoed, right?
Kk: Betul, saya tamu KoKi dari Nottingham, Inggris.

K3: Punya hubungan apa dengan Prof. Benny Hoed?
Kk: Tidak … tidak … kami sama-sama ‘bermarga’ ‘Hoed.’

K3: Itu bawa bungkusan apa? Maaf ya kita disini tidak terima ‘oleh-oleh.’
Kk: Ini hanya sertifikat.

K3: Ijazah PhD maksudnya? No! No, you don’t need to …
Kk: Bukan, ini cuma sertifikat semua properti saya. Saya punya lahan … Tanah Abang juga kebon, maksudnya beberapa rumah di Kebon Kacang, Kebon Sirih dan Kebon Nanas.

K3: Selamat sore, Pak Nanang Heryanang. Bapak pasti tidak kenal saya, tapi saya tahu Bapak. Sering liat Bapak waktu di Kansas … Kantin Sastra (UI). Saya dulu ambil program diploma bahasa Perancis. Bapak kan Docent Jerman?

Kk: Sekarang kerja disini?
K3: Betul Pak. Di bagian admin, merangkap editor dan spellchecker. Jadi kalau ada kata-kata asing dan tidak senonoh, terlalu gaul maksudnya, seperti ‘hoi,’ ‘bo’ itu harus di-delete. Betah di Depok, Pak?

Kk: Saya sudah pindah ke Jerman. Memang ada yang salah dengan penggunaan bahasa gaul tsb?
K3: Lah ya tidak ada yang salah, cuma itu maunya penonton, hehehe. Ngomong-ngomong, first name Bapak kan ‘Nanang’?

Kk: Betul, sesuai akta lahir. Ya … ditulis begitu (Na2nk) supaya keren aja, boleh toh? Hemat dua huruf, lagi, meskipun tulisan saya suka boros, hehehe.
K3: Tapi kan ejaannya tak sesuai KTP? Trus itu yang di map apaan tuh, Pak?

Kk: Oh ini slip pembelian HYENA, sesuai pesanan kamu.
K3: Loh koq mahal sekali?

Kk: Lha urusan imigrasinya saja berbelit, tapi tenang … Bapak punya kenalan orang dalam.
K3: Ah Bapak, mosok harga pewarna uban (HEENA) aja segitu mahalnya. Mana coba saya lihat barangnya.

Kk: Hyena-nya saya ikat diluar …
K3: H-Y-E-N-A? Aaaaaaalamak! Itu kan hewan berkaki empat!

K3: Ini pasti Oom Bontjelle.
Kk: Betul sekali, saya parkir kapal pesiar saya diluar, tidak apa-apa bukan?

K3: Don’t worry! Aman koq disini. Oom lihat kan tuh deretan mobil-mobil mewah. Nama pemiliknya bisa dibaca pada plat-nya. Nah itu yang warnanya pita eh jingga itu seri terbaru Bajaj Bajuri milik Lindsay Lohan. Dan di samping Bajaj itu ada sepeda saya. Oh iya sampai lupa … Maksud kedatangan Oom, selain mengantar pesanan saya, apakah Oom mau mendaftar untuk pertama kali?

Kk: Tidak! Tidak! Saya lebih suka jadi ‘cheerleader’ saja, semacam ROK-lah. Sekalian say hello sesama KoKier dan KoKoer.
K3: ROK? Apaan tuh Oom?

Kk: Read Only Kokier, tidak perlu mendaftar toh?
K3: Tidak perlu Oom. Koq Oom mau sih repot-repot antri disini?

Kk: Saya selalu berusaha mengikuti prosedur. Kalau memang harus antri ya … mesti kita ikutin.

K3: Oom, mo nanya sesuatu boleh nggak? Oom kan mantan dokter.
Kk: Tanya tentang apa?

K3: Hmm…em …gini Oom… misal … ini seumpama loh. Amit- amit jabang orok! Misal nih, salah seorang kerabat dekat Oom mendadak sakit dan pas di rumah sakit disuruh ngantri. Sementara itu Oom yang off duty tahu bahwa dengan satu phone call saja saudara Oom bisa ‘lewat jalan tol’ maksudnya bisa langsung ditangani. Apa Oom masih teteup keukeuh mau antri?
Kk: Ya … tidak … yah … tidaklah …

K3: Kenapa ragu Oom? Nah, misal lagi nich … sekarang saya bolak, Oom sekarang yang berada diposisi yang punya otoritas, orang dalam di RS tsb dan Oom yang menerima telpon. Tindakan Oom?
Kk: Hmmm…

Belum sempat si Oom menjawab tiba-tiba dari arah pintu meneroboslah seseorang sambil berteriak-teriak: “ Coblos, coblos, coblos moncong putih!”

Seketika itu juga Kookkaburra pun terbangun. OMG, untung ini cuma MIMPI. Maap ya penonton, tolong jangan disomasi, abis ketiduran sih nungguin KoKi terbaru. Soalnya pengen sekali merasakan gimana rasanya menjadi Numero Uno. Ngomong-ngomong soal ‘the first KoKoer’, Kookkaburra pernah jadi ‘Runner Up’ thanks to Enonk. Ceritanya, pas baca bagian ‘nyonya (Belanda) sexy’ – di tulisan Enonk yang pertama – Kookkaburra buruan dech ngelipir ke KoKo.

Seingat Kookkaburra sih sebelum tertidur tadi lagi ber-Explorer-ria di arsip KoKi. Kepikiran terus sama Bu Mod, asisten cuma satu, kalau urusan mendata Kokier seantero jagat mesti dilakoni juga, wah gawat. Bisa ‘sakit hati’ beneran. Jadinya pengen nyari tulisan Yang Mulia. Nah ini dia! Ketemu!

Mengutip Zeverina: “… sejak awal, Kolom Kita (KoKi) ini dibangun atas dasar saling percaya dan ketulusan yang tinggi, baik antara penulis, pembaca, komentator dan moderator”. Lihat: Suporter Bola, Ngelaut & Taksiii (Serbia, Perth, Marseille) edisi 24 Januari 2007. Supaya ringkas dapat Anda unduh di KoKi.

Ah … seandainya kita semua mau mengingat dan menerapkan apa yang dikatakan Ibu Moderator untuk SALING PERCAYA. Tentu kita tidak lagi mempertanyakan siapa itu Si Tante X, si Oom Y; Tidak lagi membedakan Si Asli dengan Si Samaran (*sigh*); Tidak lagi menduga-duga: “Wah si A itu kayaknya si B deh.” SWGL? (So what gitu loh) Bukankah seperti dikutip di awal tulisan ini tentang ‘syarat-syarat’ menjadi KoKoer dan KoKier? Tidak baik kan hanya menjadi ‘unlover critic’ ataupun ‘uncritic lover’? Dapatkah kita menjadi ‘lovers’ sekaligus ‘critics’? Meneketehe! (Mana ku tahu?) Paling-paling buntutnya jadi termehek-mehek hek hek hek. Mau membahas NKRI yang gemah ripah loh jinawi? Atau yang korup? Ya… monggo, mau pake bahasa Mars kek, bahasa Venus kek, kalau tidak merubah makna atau pesan yang disampaikan, why not? Yang penting jangan sampai terjadi journalism constipation (Fire, 2007). Jangan sepelekan KoKi, Margaret Mead pernah berkata: "Never doubt that a small, group of thoughtful, committed citizens can change the world. Indeed, it is the only thing that ever ...”

Bagian II: Made to Order

Bagian ini adalah jatah untuk tulisan pesanan dan Kookkaburra dibantu dengan ‘ghost writer’ yaitu Mbah Mar’ie Djono.

Alias by Mbah Mar’ie Djono
Ealah! Saya dipesen nulis tentang ‘nama samaran’ kok bingung! Setiap orang pasti mempunyai alasan dan motivasi tersendiri dalam memilih dan menggunakan nama samaran. Secara garis besar mungkin motifnya dapat dipilah menjadi dua yakni: negatif (merugikan) dan positif (tidak merugikan alias netral). Ada kasus dimana TKW menggunakan nama palsu yang mungkin sudah diatur oleh agen bukan atas kemauan yang bersangkutan. Pemalsuan nama pernah juga dipraktekkan oleh pejabat ataupun buron/kriminal yang berusaha meloloskan diri dari cekalan imigrasi.

Di bidang sastra atau tulis-menulis, menggunakan ‘pen-name’ adalah hal yang biasa dan tentunya penulis-penulis tersebut mempunyai alasan yang berbeda-beda. Eduard Douwes Dekker (1820-1887) misalnya memakai ‘Multatuli’ yang dalam bahasa Latin berarti ‘sangat menderita’ yang menurut Dekker mencerminkan keprihatinannya pada ketidakadilan yang dialami masyarakat setempat dan penderitaannya sebagai asisten residen pada saat beliau ditempatkan di Lebak.

Di Inggris misalnya ada Agatha Christie (1890-1976) pengarang novel detektif terkenal dengan ciri khas misteri dan pembunuhan. Dia merasa perlu menjaga image-nya sebagai Christie si penulis fiksi detektif dengan Christie si penulis dengan genre ‘Mills and Boon’. Christie memiliki nama samaran Mary Westmacott yang dipergunakannya dalam menulis novel-novel romantis. Sedangkan novelist Mary Anne Evans (1819-1880) memilih nama pria, George Eliot dalam menerbitkan buah karyanya.

Penulisan nama sastrawan kadang kala merupakan bagian atau singkatan dari nama asli. Di Indonesia, sebagai contoh, ada Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin yang lebih dikenal dengan nama NH Dini; STA adalah kependekan dari Sutan Takdir Alisjahbana.

Ada diantara KoKier yang menerapkan penggunaan alias seperti yang disebutkan diatas, misalnya LD, WB ataupun Ki Ageng Similikithi yang nama aslinya diketahui baik oleh pembaca maupun moderator. Ada juga yang memilih untuk tetap anonimous seperti (Pak) “WES” dan Kookkaburra yang secara eksternal nggak jelas apakah dia itu ce atau co.

Di bidang jurnalisme yang sesungguhnya, bisnis ataupun akademis, jarang sekali orang memakai nama palsu, apalagi kalau mereka sudah ‘terkenal’. Kerabat/sanak saudara mereka ada yang ‘aji mumpung’ dan adapula yang menganggap keterkaitan itu biasa-biasa saja. Tetapi ada pula yang enggan dikaitkan dengan orang terkenal tsb.

Apa saja sih unsur ke-PRIBADI-an orang ‘terkenal’? BMW (Be My Wife) pribadi? Rumah pribadi (bukan Pondok Mertua Indah)? CC pribadi (bukan yang join)? Bukan itu yang saya maksud. Salah satu dari 'Sepuluh Unsur Kepribadian Billionaire' menurut Jennie S. Bev adalah membuka diri terlebih dahulu dalam arti kata terbuka dan tidak misterius. Selengkapnya saya kutip disini:

“Pernah Anda bertemu orang yang selalu mau bertanya soal hal-hal pribadi tentang orang lain namun tidak pernah mau membuka diri? Mereka biasanya hidup dalam ketakutan dan kecurigaan, yang pasti mereka akan sangat sulit untuk mencapai kesuksesan karena dua hal ini adalah lawan dari unsur-unsur yang membangun sukses. Rasa percaya dan kebesaran hati untuk membuka diri terhadap lawan bicara merupakan cermin bahwa kita nyaman dengan diri sendiri, lantas tidak ada yang perlu ditutupi, sesuatu yang dicari oleh para partner bisnis sejati. (Siapa yang mau bekerja sama dengan orang yang misterius?)” pembelajar.com.

Citizen Journalism ala KoKi sudah tentu berbeda dengan journalism-nya versi Wikipedia, apalagi dengan adanya ‘yel-yel’ ‘Siapa Saja, Menulis Apa saja!’ Sudah SANGAT jelas sekali. Mbok ya kita jangan ngeyel lagi. IMHO, mau punya sejuta nama alias selama nama asli ada di Moderator, apa yang salah? Bukankah setiap orang bisa saja berubah pikiran/pendapat tanpa perlu dianggap sebagai plintat-plintut?

Terus apa hubungannya dengan kutipan Jennie S. Bev? Hubungannya? Baik-baik saja … (becanda!) Maksudnya kalau ada yang mau ‘tukar-menukar kartu nama’ (berbisnis) di KoKi, kenapa tidak? Cuma … saya sih, kalau ada uang £1 coin menggelinding … ya dipungut, apalagi satu ember! ‘Bilioner’ bukanlah ‘bilioner’ meskipun kurang satu ‘rupiah’ – eh Jaka Sembung naik ojek nggak sih?

Disclaimer (lagi): Saya tidak ada hubungan dan tidak kenal dengan Jennie S. Bev, dan saya belum/tidak minta ijin kalau tulisannya saya kutip. Yang saya tahu adalah beliau ‘orang besar’ yang rendah hati. Kalau ada yang mau melempar balok, silahkan ditujukan ke Kookkaburra, karena saya (Mbah Mar’ie Djono) hanya menerima pesanan.

(Diterbitkan di KoKi edisi Tukul, Tora & Kesuksesan Seputar Kolom Kita, Jumat 04 Mei 2007 7:45 wib.)



Kookkaburra Abroad: Kamso aka Culture Shock

(Kookkaburra - Inggris)

Hi Zev dan para pecandu KoKi yang sedang membaca di depan computer/PDA … Kali ini tulisan Kookkaburra sebagian besar berkisah tentang jadoel (Jaman Doeloe). Maaf ya … Zev, ngetiknya pake “J” bukan “Z” (zadoel). Nah karena di KoKi sedang musim disclaimer, maka Kookkaburra mau ikutan membebek. (Mau dibilang pamer yah … Kookkaburra pasrah saja.)

Sebelumnya Kookkaburra mohon maaf kalau pembaca kurang sreg dengan judul tersebut di atas. Sesuai judulnya, cerita dibawah ini dituturkan berdasarkan pengalaman pribadi dan dari sudut pandang seorang Kookkaburra muda (sekarang sudah sepuh) waktu pertama kali ke LN – jadi masih kamso alias kampungan sokuali. (Nanti kalau pake kata “Ndeso” ada yang sensitif – emang beda?) Berhubung Kookkaburra takut ngetop (hehehe – asal nggak merugikan orang lain, boleh kan sombong?) nama orang/tempat/jalan dan tahun sengaja disamarkan/diganti, ‘to protect the dignity and privacy of myself and others.’ (Mana tahu Kookkaburra ada hubungan dengan Osama bin Barack oops maksudnya Osama bin Laden atau Barack Obama, hahaha – just kidding!) Tulisan ini BELUM pernah diterbitkan dimanapun. Kookkaburra nggak punya blog. Lumayan … ada KoKi … jadi bisa nebeng nge-blog, hehehe. Kalaupun ada di antara para KoKier yang (merasa) pernah mendengar cerita di bawah ini, mungkin hanya suatu kebetulan belaka. Kalau bisa jangan tanya apakah Kookkaburra dulu pernah tinggal di Gg. Kelinci atau jadi murid di kursus/sekolah anu, wokeh? (Dah kepanjangan nih basa-basi-nya, silahkan scroll up/down/sideways.)

Kookkaburra Muda (USA, 1990an)
Cerita dimulai pada saat Kookkabura muda berangkat dari kota seribu vihara menuju ibukota untuk selanjutnya ke terbang ke negaranya Oom Joe eh Oom Sam (emang beda?). Semua dokumen (surat dari sponsor, passport dan tiket untuk keberangkatan ke Cambridge – MA dua hari berikutnya) sudah lengkap, kecuali visa Amrik, visa student, BUKAN visa diplomat. Tapi dengan ‘jalan pintas’ visa kelar satu hari dan Kookkaburra bisa terbang keesokan harinya. Pembaca jangan berpikiran negatif dulu. Tiket memang sudah dibelikan oleh sponsor dan harus berangkat sesuai tanggal tsb. Singkat cerita, Kookkaburra waktu itu tidak pakai acara ngantri, langsung dijemput di tempat antrian oleh orang dalam (program officer dari pihak sponsor) untuk wawancara visa. Belakangan Kookkaburra baru ngeh, ternyata ... urusan visa meskipun di jadul itu sebenarnya tidak mudah … dasar kamso.

Pengalaman kamso kedua berkaitan dengan (over-sized) koper. Berdasarkan itinerary, transit di Narita selama kurang-lebih 8 jam dan oleh sponsor disediakan tempat istirahat di sekitar airport untuk sekedar mandi (malahan sempat tidur). Karena yakin segala barang sudah di check through sampai Boston, begitu turun dari pesawat, setelah bertanya sana-sini (dan hampir selalu dijawab dengan bahasa Jepang), Kookkaburra akhirnya menemukan hotel yang dimaksud. Masalah timbul setelah tiba di Logan Airport. Yap, betul! Ternyata si Koper nggak ada! Bisa jadi nyangkut di Narita atau di belt conveyor karena kopernya super gede. Hahaha! Akhirnya si Koper berhasil dilacak dan diantar ke dormitory dua hari berikutnya. Ada hikmahnya ternyata, karena nggak pake acara dagdigdug diperiksa isi kopernya di airport (pssst … ada barang selundupan … itu loh makanan kering ‘untuk jatah dua tahun’, hehehe.) Keuntungan lain, bisa hemat ongkos taksi. Loh kok? Lha kan bawaannya tinggal knapsack/backpack/tas ransel? Sewaktu masih di bandara, ada petugas disana yang berbaik hati dan menyarankan Kookkaburra untuk naik “T” (train). Beliau bahkan menuliskan naik T warna apa, turun dan ganti T dimana di secarik kertas: dari bandara naik Shuttle Bus ke MBTA/stasiun kereta, ambil Blue Line turun di Government Centre trus ganti train “B” yang berwarna hijau (Green Line). Kertas tersebut masih Kookkaburra simpan sampai sekarang … maklumlah kan orang kamso.

Seperti apa kata pepatah, ‘There's always a first time for everything,’ maka Kookkaburra pun mengalami gegar budaya (culture shock) untuk pertama kalinya. Dari sekian banyak symptoms yang lengkapnya dapat dibaca di link, ini. Secara garis besar, mungkin yang Kookkaburra alami ini mirip-mirip dua point berikut: ‘Identifying with the old culture or idealizing the old country’; ‘Developing stereotypes about the new culture’. Adapun yang dulu sempat membuat Kookkaburra ‘terkagum-kagum’ yaitu ketika memperhatikan kebiasaan masyarakat setempat makan sambil jalan dan kebiasaan memakai running shoes yang dipadu dengan dress atau suit – usut punya usut ternyata mereka membawa sepatu serep. Intinya timbul pemikiran di benak Kookkaburra yang kampungan ini, betapa orang-orang Amrik yang katanya, katanya ‘modern’ dan ‘civilised’ ini, ternyata tidak modis dan tidak punya etika makan – sekali lagi ini adalah cara pandang Kookkaburra yang diserang culture shock, alias kamso.

Perasaan dianggap pendatang dari negara ‘terbelakang’ pernah Kookkaburra alami. Seperti yang pernah ditulis di KoKi, ada beberapa KoKier yang dibrondongi (yang ini bukan daun muda loh) dengan pertanyaan-pertanyaan aneh tentang Indonesia. Nah Kookkaburra juga mengalaminya. Pertanyaan-pertanyaan tsb a.l.: apakah rumahmu berlantai tanah? Apakah ada kulkas, TV, mobil, dll. Ada satu pertanyaan yang sangat mengganggu yang datang dari kenalan baru yang berasal dari Korea, sebut saja namanya Joo. Pertanyaannya adalah: Apakah bangsa kamu kanibal? Hah!!! – kalau gini mah bisa dianggap saudaranya Sumanto.* Sebenarnya ini salah Kookkaburra juga. Ketika ditanya: ‘Are you from Jakarta?’ Kookkaburra mengatakan tidak dan berusaha menjelaskan bahwa Kookkaburra berasal dari pulau yang di dalam peta dan di dunia barat dikenal dengan sebutan Borneo. Begitu mendengar kata Borneo inilah pertanyaan tentang kanibalisme itu muncul. Menurut si Joo, hal makan-memakan orang ini di pelajarinya di SD. Apakah kita serta-merta mengkambing-hitamkan si Joo atau system pendidikan di negara dia?

Kookkaburra muda juga pernah berpikiran rasis, dimana Kookkaburra secara tidak langsung, menghidupkan/mengkonfirmasi African-American stereotype – Tidak ada niat Kookkaburra untuk tebar pesona bibit-bibit rasis. Jauh sebelum ‘Nigerian’ (pake tanda kutip) money scam marak, di kota tempat Kookkaburra sekolah dulu sedang musim hipnotisme. Beberapa korban sudah jatuh, dimana segelintir African-American mengincar international student untuk kemudian di hipnotis dan digiring ke ATM. Bisa ditebak. Korban pun dengan ‘sukarela,’ tanpa paksaan/kekerasan menarik sejumlah cash. (Modus operandi yang senada juga terjadi di Indonesia, dimana pemangsa dan yang dimangsa … disinyalir … sama-sama orang Indonesia.) Dua orang teman Kookkaburra, kebetulan dua-duanya wanita berkebangsaan Jepang, pernah menjadi korban. (Kedua insiden terjadi di Harvard Square dan disekitar Kenmore Sq.)

Terus terang, setelah mendengar kejadian nahas itu dari teman Kookkaburra langsung, timbul asumsi-asumsi negatif di kepala Kookkaburra sehingga jadi parno juga dengan ras tersebut. Kookkaburra tidak bermaksud untuk membuat suatu justifikasi atas tindakan Kookkaburra untuk ber-stereotype. Kookkaburra cuma mau memberi contoh, mungkin, apa yang dikatakan oleh Hilda Kuper berikut ini ada benarnya:

‘Stereotyping proceeded in two directions – generalizing from selected characteristics of individuals to arbitrarily defined categories of people; and, conversely, applying to particular individuals the preconceived image of the broad category’. Intinya, sebagai manusia biasa, bukan dewa/dewi, Kookkaburra punya kecenderungan untuk membuat suatu generalisasi yang negatif meskipun sadar bahwa hal itu (stereotyping) sering kali meleset, tapi sulit untuk dihindari.

Stereotypes are not always accurate! (UK, 2000an)
Apa aja sih stereotype the Brits? Sebagian dari ciri-ciri mereka dapat dibaca di sini. Salah satu stereotype yang melekat di benak Kookkaburra yang kampungan ini mengenai orang Inggris yaitu: ‘Wear bowler hats and umbrellas.’ (Informasi ini sudah lama tertanam dan diperoleh ketika belajar bahasa Inggris di jadoel, masih pake buku L.G. Alexander terbitan Longman.) Hahaha! Tentu saja Kookkaburra keliru, begitu mengetahui bahwa mengempit atau memakai brolly/umbrella itu repot, karena kalau hujan dan pas angin kencang payung bisa patah atau terbang. Tambahan lagi ternyata bowler hats ini sudah tidak pernah dipakai lagi sejak tahun 1960an. Informasi mengenai bowler hats bisa diakses di wikipedia. Yang mana nih kambing hitam-nya? Yang masih terikat dibawah pohon atau yang sudah lepas menuntut ilmu dan mendaki Negeri Cina? Kookkaburra kah? Guru bahasa Inggris-nya kah? Pengarang buku yang kebetulan orang Inggris itu kah?

Prejudice (pre-judge) Kookkaburra terhadap the Brits dalam bahasa kerennya disebut stereotype activation, dimana judgemental level hanya terjadi di pikiran. Sedangkan tindakan rasis seputar African-American di atas sudah masuk ke tingkat stereotype application. Disini, Kookkaburra sudah menerapkan (negatif) stereotype dalam menilai orang. Yang perlu ditanyakan sekarang mungkin: ‘Can people AVOID APPLYING an activated stereotype?’ Jawabnya tentu saja BISA, sejauh ‘kita’ punya niat dan termotivasi untuk menghindari prejudice.

Segampang itukah? Menurut seorang pakar, Hewstone, ‘Well-known cultural stereotypes are notoriously resistant to change.’ Kalau diterjemahkan bebas mungkin artinya kira-kira begini: stereotype yang sudah mengakar itu kagak ade matinye! Di sisi lain, seringkali, kita (penonton/pengamat yang men-judge) dan suku/ras lengkap dengan label negatif itu … mungkin … cenderung menilai dan bertindak hanya karena memang sudah diberi label seperti itu. Ada ahli yang mengatakan: ‘We see what we want to see, as we want to see, as we want to perceive it.’ Singkat cerita, kadang kala, kalau kita melihat ada kambing (berwarna) ungu, pake tapal kaki kuda, diikat dengan si Kancil atau si Jaguar … kita nya lalu … ‘protes’ … ealah … ‘kambing’ kok nggak mirip ‘kambing’???? Sementara si Kambing asli membatin … karena aku kambing ya…makan rumput hijau-lah jangan SNAKE! (sic).

Terus solusi-nya? Mungkin … dengan mencoba untuk menanggapi stereotype bangsa kita dan bangsa lain ‘in moderation’ dan melihatnya dari dua sisi: ‘us’ and ‘them’.

*Untuk yang belum tahu, pada tahun 2003, Sumanto ketahuan mencuri dan memakan mayat seorang nenek yang barusan dimakamkan.

(Diterbitkan di KoKi edisi Culture Shock, Idol & Pelit = Keren - Topik Hari Ini: Gegar Budaya & Perjalanan Hidup, Jumat 23 Maret 2007 1:54 wib.)

Menjelang Gerhana 28 Agustus 2007

(Kookkaburra - Inggris)

Goresan ini bukan mengenai gerhana total, cuma sebaris cerita/puisi tentang bulan yang fotonya diambil selama tiga hari belakangan ini. Mumpung masih dalam keadaan ‘melan’ dan didukung suasana diluar jendela dimana bulan sedang tertutup awan. Puisi yang berbahasa Inggris merupakan buah karya Walter John de la Mare (1873 – 1956). Sementara foto diambil dari jendela kamar.


Purnama Di Antara Cemara

Tiga malam berturut-turut
Dia datang menyembulkan wajahnya

Sesekali awan kelabu menutupinya
Sesaat … dia hilang dibalik rerimbunan cemara

Untuk kemudian mempertontonkan kemolekannya
Hari demi hari

Semakin bulat
Semakin menggemaskan

Gerhana sebentar lagi
Pastikah dia datang kembali?

Full Moon
(By Walter de la Mare)

One night as Dick lay fast asleep,
Into his drowsy eyes
A great still light began to creep
From out the silent skies.

It was the lovely moon's, for when
He raised his dreamy head,
Her surge of silver filled the pane
And streamed across his bed.

So, for a while, each gazed at each-
Dick and the solemn moon-
Till, climbing slowly on her way,
She vanished, and was gone.

(Dikirim via email pada hari Mon, 27 Aug 2007 16:50:58 -0700 (PDT) dan diterbitkan di KoKi edisi Gerhana Bulan, Searching for Home - Cerita Foto I, Selasa 28 Agustus 2007 15:36 wib.)

Buah Nangka Berselimut Karung Goni

(Kookkaburra - Old Gum Tree)

Di b’lakang rumah ada pohon jambu
Pohon jambu sangat tinggi
Buahnya banyak sebesar kepalku
Aku suka sekali …

Itu adalah potongan lagu kanak-kanak yang masih Kookkaburra ingat, entah siapa pencipta lagu tersebut. Sambil mendendangkan lagu inilah Kookkaburra teringat akan pohon nangka yang ada di depan rumah. Pohon nangka tidak tinggi. Buahnya banyak lebih besar dari kepalaku. K%K suka sekali …

Pohon itu sudah tidak ada lagi. Tapi KoKo AV – Taipei untuk Ki Ageng mengingatkan Kookkaburra dengan pohon nangka penuh kenangan itu. Buah semangka berdaun sirih mungkin merupakan hal yang “biasa.” Adalah tidak biasa apabila ada buah nangka berselimut … karung goni, lagi! Kisah berikut ini Kookkaburra tulis pada saat bertengger di Old Gum Tree, keh, keh, keh.

Syahdan, meskipun dulunya setiap buah yang masih melekat di pohonnya itu tidak dibuntel dengan jaket musim dingin ala Mbah-nya AV - Taipei, akan tetapi Emak Kookkaburra selalu menyelimuti setiap buah nangka yang mulai memasuki masa pubertas dengan karung goni – yap, karung goni bekas beras jatah PNS. (Dengar-dengar sekarang jatah beras diterima dalam bentuk uang?)

Kookkaburra tidak tahu apa alasannya sehingga buah-buah yang sudah mulai “montong” menggelembung itu di tutup atau dibungkus rapat dengan goni – hmm … seperti Dewi Bulan yang sedang hamil muda saja. Apakah untuk menghindari para tetangga dari godaan-godaan yang menyesatkan? Apanya yang sesat? Bagaimana tidak sesat apabila dari dari bentuknya saja sudah menggoyahkan iman. Jackfruit atau buah nangka kami ini memang istimewa. Dalam keadaan matang dan siap panen atau siap gugur, bentuknya bulat, bundar dan kencang. Apabila bagian kulit luar durian mempunyai duri (**lah iya lah – celetuk Mbah MD**) nangka mungkin memiliki bulir-bulir yang, pada kasus Nangka K%K, semakin matang buahnya semakin datar atau pipih bulirnya. Apa lagi keunikan nya? Karena sebegitu shemog-nya body si Nangka ini sampai-sampai buahnya (buah nangka looh) merekah dengan sendirinya dan tersibaklah kulit dagingnya yang cerah bak kuning telur, di sela-sela serabut-serabut buah nangka yang tidak jadi. Rasanya, tentu saja manis bak baklava berselimut pistachio.

Kadang-kadang daging buahnya sampai berwarna kecoklatan seperti mendapat efek “suntan”. Hal ini disebabkan karena daging buah nangka yang kuning mulus ter-ekspose juga dengan sinar matahari, meskipun diberi tabir surya bermerek “goni”. Secara logika, pecahnya buah nangka yang matang di pohon ini mungkin disebabkan oleh padatnya isi biji berbalut daging nangka yang tebal dalam tiap-tiap buahnya. Tetapi bisik-bisik tetangga mengatakan bahwa pasti dulunya pohon nangka kami itu pernah dipanjat oleh perempuan. Hah? Sudahlah, tolong jangan disebar-luaskan namanya juga “katanya … katanya …”

Selain bentuknya yang begitu menggoda, harumnya Nangka K%K dapat tercium sampai keseluruh gang (**hiperbola**). Apabila ada arisan bulanan atau ada tamu jauh yang mampir ke rumah, Nangka Goni itu hampir selalu menjadi pembicaraan. Bagaimana tidak? Lha pohonnya pas di depan jendela ruang tamu. Apalagi ketika teras depan sempat dirombak dan ditinggikan sehingga pohon tersebut semakin rendah seolah-olah tumbuh di teras yang sudah diubin. Anak-anak saja dapat dengan mudah menjangkau buah nangka tersebut. Buahnya yang banyak dan matangnya buah yang tidak serentak membuat pohon nangka itu sepertinya berproduksi saja sepanjang tahun. Hampir seluruh tetangga dekat secara merata sudah pernah mencicipi Nangka K%K. Akan tetapi Emak Kookkaburra terkadang pilih-pilih bulu juga. Ada keluarga/tetangga tertentu yang tentunya ketiban nangka ekstra. Nah orang-orang yang mana sajakah? Orang-orang yang bertindak sebagai intel, semisal Bu Sudin (bukan nama sebenarnya) yang anaknya berambut kribo seperti kembang gula (nggak enaklah ya … membandingkan rambut manusia dengan rambut/bulu hewan, meskipun menurut kita hewan itu “cantik” dan menggemaskan.) Terus mengenai Bu Sudin?

Oh iya, Bu Sudin kerap membuat laporan ke Emak Kookkaburra seperti: “Bu … nangka nya sudah harum.” Atau “Bu, tadi ada anak main layangan dan colak-colek nangka Ibu.” Nah pernah ada tetangga baru yang tinggalnya pas di samping rumah laporan-laporannya nya terdengar lebih heroik. Terus terang sampai sekarang Kookkaburra tidak tahu nama dari Ibu atau Bapak tersebut, tetapi di keluarga kami, keluarga tersebut dikenal dengan “Par Sayur” (artinya orang yang jualan sayur.) Once upon a time … pada suatu hari … gugurlah si Nona Nangka dan nyempluk dihadapan Ibu Par Sayur. Tak lama kemudian ada sekelompok anak remaja tanggung dari kampung sebelah dan mau meringkus si Nangka. Kontan Ibu Par Sayur mencegat mereka dan dari warung kecil itu pun terbetiklah berita bahwa si Nona eh si Nangka diselamatkan dari jarahan penyamun. Ujung-ujung nya Ibu Par Sayur mendapat jatah potongan nangka.

Sebenarnya ke-terkenal-an Nangka si Emak bukan cuma sebatas di mulut gang saja. Walaupun belum tersiar sampai manca negara dan tidak terlacak di google scholar, Dr. Nangka asli Indonesia spesialisasi karung goni ini sering menginjakkan kaki di Ibukota negara Indonesia, Jakarta, yang sudah tidak lagi disebut Batavia itu looh. Konon, kalau ada produksi berlebih dan ada famili yang terbang ke Jakarta, si Nangka pun diselundupkan dalam kontener plastik. Untuk siapa lagi kalau bukan untuk saudara-saudara Kookkaburra. Sebenarnya yang ngotot mengirim itu si Emak, bukan karena ada yang minta. Yaa … itulah kebanggaan si Emak terhadap si Nangka, yang pohonnya rajin disiram sama air cucian daging atau ikan. Agar supaya berbuah tebal dan manis, ada pantangan yang dipercaya dan dipatuhi oleh Emak yaitu tidak pernah memetik nangka muda untuk dijadikan sayur. Kalau mau masak sayur kari nangka (kami tidak bisa dan tidak biasa masak gudeg) Emak membeli nangka muda di pasar, yang sudah dikuliti tentunya.

Kenangan lain tentang nangka? Tentu saja bijinya yang pada jaman dahulu oleh Emak direbus dicampur garam sedikit dan jadilah camilan masa muda. Ooooh nangka ... itulah sekelumit cerita tentang dirimu.

(Artikel dikirim via email pada hari Tue, 6 Nov 2007 04:41:56 -0800 (PST) dan diterbitkan di KoKi edisi Insiden Finlandia, Nostalgia SMA, Wanita & Korupsi - Cerita Kehidupan, Jumat 09 November 2007 9:48 wib.)

Note: One photo added by Mbah MD

Camilan Jadul: Sweet Topping Biscuit

(Kookkaburra - Inggris)

Meskipun Kookkaburra tidak pernah tahu apa nama biskuit ini, tetapi Kookaburra percaya bahwa pada waktu kanak-kanak, mungkin sebagian besar dari KoKier pernah melihat atau bahkan menikmati biskuit manis yang dihiasi dengan adonan gula berwarna pelangi ini. Hiasan gulanya yang disemprot satu persatu menciptakan cetakan-cetakan gula yang unik. Biskuit berwarna pastel seperti hijau, jingga, kuning, merah muda dan putih ini, kadang membuat penikmat cilik-nya memilih-milih dulu yang mana kiranya mau dimakan duluan.

Di kampung Kookkaburra, biskuit murah meriah ini ada yang dijual per kilo dan ada yang sudah dikemas dalam plastik. Tadi siang pas kebetulan mampir ke toko Korea yang letaknya tak jauh dari rumah, tiba-tiba saja mata Kookkaburra tertumbuk pada biskuit jadul yang dalam kemasannya tertulis Sweet Topping Biscuit. Ah … Entah sudah berapa lama Kookkaburra tidak makan biskuit ini. Akhirnya Kookkaburra membeli biskuit ‘made in China’ seharga £ 0.99 (untuk 120gr) ini demi mengenang camilan jadul sekaligus menulis cerita foto untuk KoKi.

Ada satu keponakan Kookkaburra yang suka memakan bagian gulanya saja. Ada lagi yang memilih biskuit dengan bagian gula yang besar-besar saja. Bagaimana dengan KoKier? Punya nostalgia tentang biskuit ini?

Untuk juru aba2 (foto) di Sleman, kenapa “cisss”? Karena toekang potretnya org Indonesia:). Kalau org yg berasal dari English speaking country so pasti ngomongnya “cheese,” hehehe, kecuali kali kalo di Canada. Dulu (dulu banged) pernah foto bareng keluarga angkat di foto studio (di daerah bagian Ontario), trus pemotretnya kasi aba2: “Say MONEY.” Logikanya mungkin krn kata “ciss” dan “money” membuat tombol2 (lekukan) indah yang memberikan efek senyum? Kalo di negara2 lain selain yg disebut diatas apa ya aba2nya? Ngomong2 tentang Canada jadi ingat autumn/foliage/the fire of maple pertama di Canada, ada satu daun maple kering yg masih disimpan utuh diselipan buku, hmm. Sepertinya tiap2 tempat punya pesona tersendiri, misalnya yang di daerah New Hampshire, Amrik. Ada kan KoKier yang tinggal deket2 situ?

Untuk cucu2 simbah, maap utk menghormati sesame KoKier, hr ini K%K nggak kirim salam:). Abis gimana dounk? Kalau kedua belah pihak tidak berniat untuk mempublikasikan email-nya dan MEMILIH menjadi penggembira saja (daripada mencela)? Bukankah KoKi milik bersama? Tentang balapan … hm… kalo Mbah sih udah nyanyi dangdut: //cukup sekali … aku merasa … jawara satu// Tapi si K%K belon kapok tuh:) Salam.

(Dikirim via email pada hari Fri, 6 Jul 2007 dan diterbitkan di KoKi edisi Takut Dokter, CPR & Komunitas Amish - Cerita Foto IV, Rabu 11 Juli 2007 8:47 wib.)

Marmite: One Man’s Meat is Another Man’s Poison

(Kookkaburra - Inggris)

Hi Zev dan para penikmat kopi, eh maaf – salah ketik, penikmat KoKi di seluruh penjuru alam maya semuanya. Kali ini Kookkaburra mau (maaf) ber-gosip-ria tentang “my mate” panggil saja Mas Marmite yang sangat doyan sama Marmite (di Australia dikenal dengan nama Vegemite sedangkan di Swiss disebut Cenovis.)

Kookkaburra lupa kapan pertama kali Kookkaburra “bersentuhan” dengan (“selai”) Marmite ini. Bisa jadi lewat iklan di majalah ataupun di televisi dengan slogan “You Either Love It or Hate It” nya itu. Tetapi, Kookkaburra tidak pernah lupa kapan dan dimana Kookkaburra bertemu dengan Mas Marmite dan ingat PDKT yang dilakukannya terhadap Marmite. Nah sebelum Kookkaburra menceritakan “perselingkuhan” Mas Marmite dengan Marmite-nya, kita simak dulu iklan-iklan-nya di sini.

Sekarang … kembali ke …. KoKi … eh salah … ke Marmite.

Marmite (lahir tahun 1902) termasuk sejenis “spread” yang di negara asalnya (Inggris) biasa dioleskan di atas sandwich ataupun toast. Tapi, menurut “Mr. Bond” (d.h. Bapak BONDan Winarno) yang punya kavling di “Jl. Sutra,” untuk yang orang tidak biasa, cara mengkonsumsi Marmite ini punya “pakem” tersendiri. Tak perlulah Kookkaburra cerita secara mendetil disini … ntar katanya “salah forum” … trus artikelnya “dilepeh” sama … (*sambil liat kiri kanan*) … Zev. Hehehe…

Adapun Vegemite, “sepupunya” Marmite, lahir di Melbourne pada tahun 1923. Konon kabarnya (kata “Mpok Wiki”) Vegemite, yang sudah menjadi makanan kebangsaan orang-orang di Australia ini ternyata ngetop juga di New Zealand. Sepanjang pengetahuan Kookkaburra, CMIIW, Marmite dan Vegemite biasanya dijual dalam bentuk kemasan-kemasan kecil untuk sekali makan atau dikemas dalam “jar” atau toples (eh gimana ejaan yang bener ya? “toples?” atau “stoples?” Yang jelas bukan “topless.” Hahaha! – salah eja dikit aja jangan “repot-repot” donk, hehehe. Oh yes! I’m Gus Dur’s follower.) Sementara itu Cenovis yang pertama kali diproduksi di Swiss pada tahun 1931 ada yang dikemas seperti pasta gigi.

Kembali ke ungkapan “Love it/hate it” itu tadi, di negara asalnya saja, Marmite/Vegemite/Cenovis ini ada yang pro (“Yummy”) dan ada yang kontra (“Yuks”). Mungkin, masih bisa diperdebatkan loh, Marmite dan “saudara-saudaranya” ini bisa disejajarkan dengan durian dkk (dodol duren, tempoyak) atau sambal dkk (terasi, petis) – yang bisa jadi merupakan “meat” (daging/makanan) bagi penggemarnya tapi menjadi “poison” (racun) bagi penghujatnya.

Bagaimana dengan kebiasaan Mas Marmite yang berasal dari Afrika ini? Mas Marmite, yang dulu satu sekolahan dengan Kookkaburra, ternyata punya kebiasaan yang mungkin oleh penggemar maupun penghujat Marmite dianggap super-duper aneh! Ternyata … oh ternyata … Mas yang hitam manis ini suka sekali minum teh dengan cara “meng-gula-i” teh-nya dengan Marmite! Asli bo! Ini dilakukannya bukan karena ketidak-tahuannya, tapi … memang sudah menjadi semacam ritual. “Yummy?” atau “Yuks?” – “One man’s meat is another man’s poison.” Apakah Mas Marmite memang benar-benar ingin tampil beda dan termasuk seseorang yang enggan dituduh sebagai anggota pasukan apa tuh … “be …?” Pasukan (burung) beo maksudnya gitu loh. Entahlah … yang pasti si Mas Marmite ini mau aja tuh minum teh meskipun tidak ada Marmite.

Tidak sedikit orang Indonesia yang tinggal di luar negeri punya keterikatan emosi yang berlebihan dengan makanan/masakan ataupun produk/merek tertentu. Kalau kecap harus “Kecap X,” kalau jamu harus “Jamu Y” dan kalau mie instant harus “Mie Z.” Pernah “terbaca” (tak sengaja membaca) di kolom “Greeting” KCM seseorang menulis pesan minta dikirimin mie rasa (ikan) cakalang dari Indonesia ke LN. Demikian juga halnya dengan “penggila berat” Marmite dari Inggris dan Vegemite dari Australia, ada yang fanatik dengan produk/merek dalam negeri mereka masing-masing. (Orang Swiss tidak begitu ambil pusing dengan Cenovis.)

Bentuk ketergantungan/kerinduan akan makanan “bangsa dewek” ini pernah dikemas oleh Melanie Tait, asli Australia, dalam bentuk pertunjukan bernuansa parodi dengan judul The Vegemite Tales yang cukup sukses di Inggris. Pertama ditampilkan pada tahun 2001 di Barons Court Theatre London dan sempat mentas dan berjaya di West End. Vegemite Tales ini oleh para kritikus ditanggapi dengan “Yummy” dan “Yuks” juga … ternyata.

Dalam mengkonsumsi makanan atau acara (TV, pertunjukan, etc.) atau mengenakan sesuatu (tas, sepatu, parem kocok, etc.), pasti ada merasa kok kalau nggak pake merek itu rasanya kurang “posh” dan kurang “nendang.” Kadang ada juga yang mesti dalam bentuk kemasan tertentu. Coca-Cola, misalnya, menurut orang-orang tertentu punya rasa dan “kelas” yang “berbeda.” Tentu dengan asumsi bahwa yang “pre-mix” itulah yang termurah apabila dibandingkan dengan Coca-Cola kaleng, botol plastik maupun botol gelas. Cara penyajiannya juga dapat membuat Coca-cola yang diminum dari cup kertas “kalah” rasanya dengan Coca-Cola yang disajikan dalam gelas – itu kata yang “fanatik.” Tentunya para kontributor KoKi/KoKo “paham” beda antara minum cappuccino dengan gaya “take away” (gelas kertas) sama gaya “sitting down” (cup, saucer dan mungkin plus biskuit-nya.)

Artikel-artikel di KoKi pun tampil dalam kemasan-kemasan tertentu. Yang “intelek” menurut si A bisa dianggap “gossip” oleh si B; Yang “aseli” (ditulis berdasarkan pemikiran sendiri) oleh si C dicurigai hasil “kutilan” (hasil dari mengutil sana-sini); Yang diceritakan dengan tulus dan “apa adanya” dibolak jadi ada “hidden agenda-nya” alias “pamer.” Sepertinya kok jadi serba salah ya? Sekilas terlihat ada yang cinta buta sama penulis tertentu di KoKi/KoKo dan adapula yang sudah antipati duluan pas baca namanya – seperti sikap kebanyakan orang terhadap Marmite. Penasaran dengan Marmite? Maukah Anda mencobanya?

Salah satu tip untuk dapat menikmati Marmite/Vegemite/Cenovis ini adalah dengan mengoleskannya dengan tidak berlebihan. Mungkin … ini hanya suatu kemungkinan loh … dalam urusan selera “kampung tengah” maupun “fanatisme” terhadap sesuatu/seseorang sebaiknya juga dilakukan “in moderation?”

Untuk para KoKier yang mau melihat perbandingan warna, tekstur maupun kemasan Marmite/Vegemite/Cenovis, bisa dilihat di sini.
(Dikemas dari hasil melacak di Google dan Wikipedia.)

(Diterbitkan di KoKi edisi Coffee Shop, Opera & Marmite - Topik Hari Ini: Coffee Shop, Theatre & Marmite, Jumat 23 Februari 2007 13:26 wib.)

Batu Giok Seken … Suatu Analogi

(Kookkaburra - Inggris)

Kookkaburra bukanlah kolektor batu ginjel-ginjel, batu kali maupun batu mulia. Tetapi Kookkaburra mau berkisah sedikit tentang salah satu koleksi barang seken atau tepatnya batu seken milik pribadi Kookkaburra.

Gambar berikut bukanlah foto ulekan obat atau pun ulekan sambal mini, tetapi adalah wadah atau tempat perhiasan yang terbuat dari batu yu (monyong mode ON). Seingat Kookkaburra, saat itu … sambil menimang-nimang “batu” itu, Kookkabura sempat bertanya kepada penjaga toko untuk memastikan apakah benda itu terbuat dari giok. “It IS jade,” setidaknya … itulah penuturan pramuniaga charity shop, Oxfam, dimana Kookkaburra membelinya kira-kira setahun yang lalu.

Karena tidak mempunyai keahlian untuk membuktikan “keaslian” giok tersebut, antara percayadan tidak, timbul juga ketertarikan Kookkaburra pada guratan-guratan indah alami yang sekilas tampak seperti pudding agar-agar berwarna kehijauan dalam larutan santan dan gula aren yang kemerahan. Diselingi gradasi coklat, kecoklatan dan coklat tua, ditambah lagi dengan gumpalan-gumpalan dan lapisan-lapisan warna hijau disana-sini, siapa saja bisa terkecoh dan mengira batu itu adalah dessert yang yummy, seandainya batu ini ditata diatas dessert plate dan diberi garnish lelehan batangan coklat dan curahan krim diatasnya, hmmmm ….

Pernah Kookkaburra baca bahwa dalam memutuskan untuk membeli suatu barang, calon pembeli hanya memerlukan waktu rata-rata 2,6 detik. Meskipun sempat ragu-ragu ketika “membaca” harganya, akhirnya dalam hitungan detik Kookkaburra memutuskan untuk membeli barang bekas seharga £ 3.99 ini. Wadah bulat yang lumayan berat ini mempunyai diameter 8,5 cm dengan tinggi 5 cm – bandingkan ukurannya dengan pulpen Boxy.

Maksud dan tujuan dari “pameran” batu kumala ini tak lain dan tak bukan adalah untuk menghimbau suhu Jade Chen untuk menyumbangkan cincin giok nya kepada Kookkaburra. **wink-wink** GOS SIP mengenai barang seken Kookkaburra ini BUKAN untuk menyaingi koleksi pribadi sang suhu, hehehe. Semoga saja JC berkenan “menyimpan” koleksi giok yang diceritakan dalam artikelnya itu ke dalam tempat perhiasan Kookkaburra yang masih kosong melompong. Kalau Lembayung naksir Jade Chen oops … naksir bandul jade nya J Chen karena ada semburat ungu-nya, Kookkaburra justru tertarik sama tintin hijau (pas sekali buat dijadikan jimat dan kayaknya cocok tuh ukurannya dengan jari dan tangan Mbah Mar’ie Djono yang hitam dan berbulu keriting, hihihi.) Mbah MD udah setuju kok! **apa-an sich???** Ya sudah … Kookkaburra cukupkan sampai disini aja dagelannya … tek terek tek tek tek …!

Pada kesempatan ini Kookkaburra berniat untuk mengajak KoKier untuk membaca, menimbang dan memutuskan … **duh serius amir, yak?** Maksudnya para KoKier diminta untuk menilai “keaslian” dan menikmati keindahan batu kumala ini dari foto-foto yang Kookkaburra ambil dari sisi yang berbeda. Setelah menilai nanti dan kalau lah benda ini ternyata “asli,” silahkan melakukan penawaran … (just kidding!)

Sebelum menilai, bolehkan … misalnya … Kookkaburra membuat analogi antara wadah perhiasan dari giok ini dengan kita sebagai sesama KoKier? Terlepas apakah kita ini “asli” atau “palsu” (baca: samaran), kita semua sama berharganya, setidak-tidaknya dimata ZR (Zeve Rina), hihihi. Tinggal bagaimana kita menempatkan peran kita, selaku wadah, dari segi ARTISTIK atau FUNGSI nya. Agar supaya menjadi artistik, tentunya si Giok ini harus di-sharing-kan atau dipamerkan sedemikian rupa, sehingga semakin banyak lagi orang yang menikmatinya. Dalam mendukung penampilan nya, batu seken ini didandani dan diberi arahan gaya dengan memberinya alas kain hijau lumut muda, didudukkan di atas lilin dengan warna senada (hasil minjam dari tetangga), dihiasi dengan latar belakang kertas manila merah darah dan disorot dengan lampu meja. Batu-nya sendiri ditampilkan polos, tanpa polesan apa pun. Mudah-mudahan sebagian dari kita sudah mulai kebal dan tidak alergi lagi dengan kata “pamer”? Asal … pamer pada porsi dan tempatnya. Sementara itu … untuk dapat ber-FUNGSI secara optimal, mungkin … ada baiknya apabila kita bisa saling mengisi … supaya berimbang dan tidak berat sebelah.

Kookkaburra tidak memperoleh komisi sepeser pun dari Boxy, yang salah satu produk nya Kookkaburra gunakan sebagai representasi alat ukur – sebuah pen yang ukuran “panjangnya” rata-rata diketahui khalayak banyak. Hal ini mencerminkan bahwa dalam hal ukur-mengukur (baca: menilai) sangatlah dianjurkan apabila kita mengunakan alat ukur yang sudah diketahui bersama dan sesuai dengan apa yang akan kita ukur atau bandingkan. Ke empat foto ini (kalau dimuat semuanya) juga melambangkan betapa dalam menilai dan ber-gos sip (plus “memamerkan”) sesuatu itu alangkah bijaknya apabila kita tidak terpaku pada satu sisi saja.

Nah … tunggu apa lagi? Silahkan mengisi “kotak donasi” Kookkaburra ini dengan … permen, marmite, sweet topping biscuit atau … cincin hijau, hehehe … Semoga kelak … “sumbangan” KoKier bisa dinikmati siapa saja, kapan saja, dari yang masih bau es cargot (sengaja dipisah) sampai yang udah bau es menyan/kemenyan.

Es es es … es-nya neng, mas, tante, oom, eyang putri, eyang kakung … yang rasa dingin … yang rasa buah … satu serebu, tiga PehaDe … (enam berapa yak?)

Catatan palsu: escargot (dibaca: \es-kär-gō\) adalah sejenis es (minuman) dengan “rasa” dingin-dingin-suuuejuk-semriwing. Sedangkan yang rasa buah namanya es troberi, keh keh keh …. Catatan asli nya bisa dibaca di sini.

Catatan lagi: Kebetulan sekali bahwa tempat perhiasan giok tersebut adalah barang seken. Akan tetapi, tidak ada maksud pengirim artikel untuk menyamakan Kokier dengan segala konotasi (baik positip maupun negatip) yang umumnya diasosiasikan dengan kata “seken.” (Kookkaburra)

(Dikirim via email pada hari Tue, 31 Jul 2007 16:12:07 -0700 (PDT) dan diterbitkan di KoKi edisi Aviofobia, Friends & Dunia Terbalik - Cerita Foto IV, Kamis 02 Agustus 2007 13:31 wib.)

Antara Tong “Dog Waste” dan Tongnopos

(Kookkaburra - Inggris)

Semenjak jadi “penggembira” di KoKi, digital kamera hasil lungsuran saudara tua Kookkaburra ini semakin difungsikan keaktifannya. Pemandangan yang dulu menjadi makanan sehari-hari tiba-tiba menjadi objek yang menarik untuk direkam, termasuk tempat “Dog Waste” serta seorang kakek (seumuran dengan “Mbah Mar’ie Djono”) yang sedang membungkus kotoran si Bélang (Batak aksen mode: On). Keh, keh, keh … Kedua foto diambil di suatu taman pada awal bulan ini (September).

Kalau Kookkaburra tidak salah ingat mungkin La Rose lah pionir foto tempat sampah dan yang paling anyar tentu saja foto Tong Sampah dari adik Dhipa di Brunei. Wow! Luar biasa KoKier yang satu ini. Masih muda belia tetapi sudah dapat mengungkapkan kepeduliannya terhadap lingkungan hidup dengan gambar dan kata yang kemudian ditayangkan oleh Zeverina pada timing yang tepat. Terima kasih ya dedek Dhipa, karena cerita foto nya lah akhirnya koleksi foto Kookkaburra ikutan nongol juga. Itu namanya Topik dicinta, Dhipa tiba … keh, keh, keh. Oh iya, sebagai tambahan ada foto tong “Clothing” khusus untuk sepatu, pakaian dan/atau material dari kain.

Dog Waste Bin: Mengapa dan Untuk Apa?

Inggris dikenal sebagai negara “dog-lovers”. Populasi anjing di Inggris, pada tahun 2004, mencapai 6,8 juta ekor dan menghasilkan total kotoran sebanyak 1000 ton setiap harinya. Akan tetapi jangan harap tanda “No Fouling” akan dibaca ataupun dimengerti oleh hewan berkaki empat yang disebut anjing ini. Tanda dilarang BAB (Buang Air Besar) bagi para “Bélang” ini tentu saja ditujukan kepada si Pemilik, dimana setelah BAB, “sampah” tersebut wajib dipungut, dibungkus rapat di dalam plastik untuk kemudian dimasukkan ke tong sampah atau tempat sampah khusus (Dog Waste Bin) – tindakan yang dikenal dengan slogan “Bag It, Tie It, Bin It”. Larangan “dog fouling” hampir selalu dipasang secara bersamaan dengan tanda “Keep Dogs On Leads” yang artinya biarkan anjing tetap terikat pada tali nya.

Di Inggris, kalau tertangkap basah, para pemilik hewan peliharaan ini langsung diberi tiket pelanggaran sekitar £50 tergantung pemerintah daerah masing-masing. Apabila tidak dibayar atau tidak dipatuhi, pemiliknya dapat diseret ke pengadilan dengan denda max £1000 (seribu poundsterling). Ketentuan ini dicantumkan dalam Dogs Fouling of Land Act 1996.

Seberapa jauh dampak kotoran hewan ini terhadap manusia dan lingkungan? Meskipun lebih banyak terdapat pada anak anjing, boleh dikatakan bahwa hampir setiap anjing terinfeksi dengan cacing Toxocara yang panjangnya bisa mencapai 18 cm. Mengingat suhu dan cuaca di Inggris, telur-telur cacing ini dapat bertahan sekitar 2 – 3 tahun. Sebenarnya telur-telur cacing yang jumlahnya sekitar 1 juta misroskopik per satu kali “pup” itu tidaklah berbahaya, namun, yang menjadi masalah yaitu apabila telur-telur tersebut menetas. Memungut dan membungkus kotoran yang baru saja “diproduksi” tidaklah berbahaya. Hal ini disebabkan karena untuk dapat menjelma menjadi cacing, diperlukan waktu sekitar 2 – 3 minggu. Penetasan terjadi apabila suhu memungkinkan dan biasanya jatuh pada musim panas.

Toxocariasis yang menyerang manusia merupakan hal yang dapat terjadi dimana saja di dunia ini termasuk di Inggris. Adapun gejala cacingan ini mulai dari yang ringan antara lain dari rasa nyeri, gangguan paru-paru sampai kerusakan pada mata atau penglihatan. Berdasarkan laporan Dr S. Gillespie pada tahun 1993, dalam setiap tahun nya terdapat 100 kasus gangguan penglihatan, dimana separuhnya merupakan kerusakan mata serius seperti kebutaan yang menyerang anak-anak. Dalam usaha mencegah timbulnya akibat buruk dari kotoran anjing inilah pemerintah Inggris menerapkan peraturan No Fouling.

Tongnopos
Tongnopos berasal dari singkatan Tong Darno Kompos. Kata “Darno” diambil dari nama Sudarno, pemilik dan pelopor yang menamakan dan menggunakan tong ini sebagai tempat pembuatan pupuk cair yang diolah dari sampah organik. Selain itu, lulusan D-3 Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Jurusan Konstruksi ini juga menciptakan cairan MBS (Manis Bara Sudarno) yang berfungsi untuk menghilangkan bau sampah yang menyengat. Cairan ini kemudian disemprotkan ke dalam Tongnopos yang berisi sampah organik dan diendapkan selama satu bulan. Adapun cairan MBS diolah dari hasil pembakaran (bara) tebu muda (manis) yang kemudian digiling. Seluruh campuran bahan baku cairan MBS dibuat dari produk ramah lingkungan. MBS yang sedang dalam proses paten ini sangat berkhasiat dalam menghilangkan bau sehingga dipesan dan diproduksi dalam jumlah banyak.

Sebelum memelopori Tongnopos dan menciptakan MBS, Sudarno pernah pula menciptakan Batem (Bata daleme macem-macem). Sesuai dengan namanya, bata putih ini terbuat dari semen, pasir dan bermacam-macam sampah baik yang organik maupun non-organik. Sekarang Batem sudah banyak dipasarkan di Jawa Timur, Jakarta serta Bali.

Selain memproduksi Batem, Sudarno acapkali didaulat untuk menularkan kebolehannya mengolah batu bata dari sampah. Karena dedikasi dan beberapa terobosan itulah akhirnya Sudarno dianugerahi penghargaan Kalpataru untuk tingkat Nasional pada bulan Juni tahun ini (2007).

Kalau saja pemerintah Inggris mengetahui manfaat dari MBS, mungkinkah pada suatu hari ditemukan MBS made in Indonesia di rak-rak pasar swalayan atau di pet shop di Inggris? Entahlah … yang jelas pencemaran lingkungan hidup di Indonesia sendiri sudah merajalela. “Secuil kuku” telah dipersembahkan oleh seorang DARNO yang berhasil menunjukkan kepeloporannya dan dengan nyata telah memberikan sumbangsih dalam mengelola sampah, baik yang organik maupun yang non-organik. Bagaimana dengan kita?

Disarikan dari berbagai sumber. Khusus untuk tulisan mengenai Bapak Sudarno selengkapnya dapat dibaca di kolom “Potret” KCM edisi 7 Agustus 2007.

(Dikirim via email pada hari Sun, 30 Sep 2007 04:12:38 -0700 (PDT) dan diterbitkan di KoKi edisi CCFF, Mortgage Meltdown & Food Shock Senin 01 Oktober 2007 12:55 wib.)

A KoKier’s New Year’s Resolution

(Kookkaburra - Inggris)

Hai Zev dan para KoKier di KCMC (Kompas Cyber Media Community) semuanya. (Kalo tulisan ini dimuat berarti ini tulisan Kookkaburra yang kedua.) Selamat Tahun Baru dan semoga “closing 2006”-nya dilaksanakan dengan mantap. Salut untuk Zev – tulus nih Zev – karena meskipun masih tanggal satu sudah beres-beres rumah barunya. Semoga tulisan Kookkaburra belum basi ya …

Mungkin ada diantara kita yang enggan melepas tahun 2006 dan bimbang memasuki tahun 2007 seperti syair dari lagu “Perjalanan Panjang” – salah satu lagu festival diakhir tahun 80-an yang dilantunkan oleh Connie Constantia.

Hidup ini bagaikan petualangan panjang
Ada
episode yang kita biarkan hilang
Ada
yang jadi pengiring kita bimbang
Ada
yang kita dambakan akan berulang
Masih ada hari esok yang ‘kan kita jelang

Kalaulah Kookkaburra boleh mengutip tulisan pembuka Zev edisi “boxing day” (26 Desember): “Yeah, Natal tahun ini memberi sukacita kepada kita, penuh kasih, damai, dan kebersamaan, yang mampu mempersatukan semua KOKIERS. Hmm, agaknya inilah Natal kita bersama ...” wah wah wah Zev, dengan menempati rumah baru dan tentunya setelah selesai renovasinya, Kookkaburra makin bertambah yakin bahwa KCMC mampu membuat komunitas “virtual” ini menjadi “real”. Sudah ada beberapa kisah pertemuan sesama KoKier di dunia nyata yang membuktikan bahwa betapa KomKom (Komunitas Kompas), khususnya KoKi, BISA dan TELAH mempersatukan asam di gunung dan garam di laut, thanks to Zev.

Berbicara mengenai komunitas maya yang menjelma menjadi nyata ini seringkali membuat Kookkaburra “merinding” (bukan karena ketakutan lho Zev). Menjadi anggota milis alumni “ini dan itu” - termasuk Jalansutra yang juga bagian dari KCMC ini, kopdar-kopdar (kopi darat) seperti ini tentunya tidak saja mempersatukan “semua KOKIERS”, seperti kata Zev, tapi mungkin juga sudah mulai merambah komunitas internasional yang dapat menyebarkan “natal” setiap hari, setiap detik, setiap kali KoKi di “click”.

Nah pada kesempatan ini Kookkaburra mau berkisah tentang pengalaman kopdar pertama Kookkaburra dengan komunitas yang dikenal dengan nama bookcrossing. Sebelumnya, Kookkaburra mau cerita sedikit tentang apa itu bookcrossing. Kata “bookcrossing,” yang sudah dimasukkan dalam daftar kata-kata baru dalam Concise Oxford English Dictionary pada tanggal 7 Agustus 2004 ini, memiliki pengertian sebagai berikut: “the practice of leaving a book in a public place to be picked up and read by others, who then do likewise.” Intinya, bookcrossing adalah ajang dimana buku di-release, dibaca dan diedarkan lagi.

BookCrossing.com pertama kali dipatenkan menjadi “rumah” pada tanggal 17 April 2001 oleh Ron Hornbaker, si empunya rumah . Sampai detik ini sudah tercatat 519.748 anggota yang tersebar di seluruh dunia. (Jumlah yang bertambah dalam hitungan menit!) Nah, sebagai the world’s biggest book club, para bookcrosser ada yang bernaung di rumah dot com ada yang di dot co uk. (Ada juga forum yang khusus dalam bahasa German, Belanda, spanyol Prancis dan Portugis.) Sementara ini, di Inggris ada 23 local bookcrossing group dan Kookkaburra terdaftar sebagai anggota yang pasif di kota tempat Kookkaburra tinggal. Kelompok bookcrosser di kota ini sendiri baru terbentuk bulan November 2005 dengan jumlah anggota sebanyak 62 yang lumayan aktif, dimana kopdar dilakukan secara regular dua bulan sekali di suatu bar yang juga merangkap OBCZ (Official BookCrossing Zone.) Di OBCZ ini para member dapat me-release buku dan “menangkap” buku.

Adapun motivasi Kookkaburra untuk mengikuti klub buku ini selain karena kecintaan Kookkaburra pada buku dan kegiatan membaca, juga karena Kookkaburra banyak membaca cerita-cerita mengenai pertemanan/persahabatan yang tulus antar anggota di dunia nyata. Kopdar pertama Kookkaburra ikuti karena termotivasi oleh salah satu moderator yang mengirim PM (Personal Message alias japri). Meskipun sebagai anggota Kookkaburra selalu mendapat reminder akan setiap kegiatan kopdar, tetapi Kookkaburra sangat terkesan dengan undangan via japri tsb. Diantara kesibukan Kookkaburra akhirnya pergilah Kookkaburra ke bar yang dimaksud pada jam yang telah “diiklankan”. Kebetulan pada hari itu Kookkaburra ada keperluan di toko oriental langganan Kookkaburra yang letaknya tepat berada di depan bar tersebut. (Sebelumnya Kookkaburra tidak tahu dimana persisnya lokasi bar yang dimaksud.) Nervous-kah Kookkaburra pada kopdar pertama tersebut?

Akhirnya, tibalah Kookkaburra ke bar tersebut pada jam yang sudah terjadwal, karena ini merupakan pertemuan bulanan. Begitu masuk ke dalam bar, dengan PD-nya Kookkaburra menuju meja yang terdekat dengan pintu masuk dan terjadilah percakapan singkat sebagai berikut:

“Are you from bookcrossing?”
“No, we are from Green Peace,” jawab salah seorang dari empat wanita muda yang duduk di meja tersebut.

Wah gawat nih pikir Kookkaburra dalam hati – tapi … tidak mungkin Kookkaburra salah bar, karena sudah di konfirmasi bahwa lokasi bar itu berseberangan dengan toko langganan Kookkaburra. Kontan saja Kookkaburra menebarkan pandangan ke pojok kiri dan nun di sofa sana sudah ada sekitar enam orang duduk mengelilingi meja yang penuh dengan tumpukan buku.

Segala perasaan nervous Kookkaburra pun hilang dalam sekejap karena ternyata ada yang langsung menyambut Kookkaburra dengan menyebutkan identitas Kookkaburra sebagai bookcrosser. “You must be “kookkaburra” sapa seseorang yang ternyata seorang anggota yang sangat aktif baik di bookcrossing lokal maupun international. Setelah memperkenalkan diri dengan yang lain, Kookkaburra pun mulai mencari buku yang sebelumnya sudah Kookkaburra incar. Sebagai informasi, semua buku-buku yang akan diedarkan biasanya diumumkan di komunitas bookcrossing ini dan setiap bookcrosser dapat menggunakan fasilitas release alerts dimana pelanggannya akan mendapat email yang menginformasikan dimana dan kapan buku-buku tersebut akan “dilepas.” Selagi Kookkaburra mengubek-ubek tumpukan buku-buku tersebut anggota yang lainpun mulai berdatangan dengan membawa setumpuk buku, sementara itu beberapa anggota pamit dengan membawa pulang setumpuk buku. Meskipun pertemuan dijadwalkan selama dua jam, kebanyakan dari para bookcrosser sudah menjadi regulars di bar tersebut dan masih tetap bercengkerama disana ketika Kookkaburra memutuskan untuk pulang dengan membawa tiga buah buku. Ah … sungguh kopdar pertama yang mengesankan. Sebagai tambahan, ada beberapa buku yang sengaja dititip di bar tersebut, sehingga siapa saja dapat datang anytime, untuk mengambil atau mengembalikan buku.

Apakah kegiatan bookcrossing hanya terbatas pada bagi-bagi dan baca-baca buku saja? Ternyata tidak, kegiatan lain seperti house warming party, jalan-jalan ke forest, ulang tahun juga menjadi ajang tukar-menukar buku. Sayang sekali, berdasarkan pengamatan Kookkaburra, jarang sekali ada buku yang beredar di Indonesia. Kalaupun ada hanya satu dua dan terbatas pada lokasi-lokasi tertentu seperti hotel-hotel atau lapangan terbang di Bali, Jakarta dan Banda Aceh.

Seandainya Zev meloloskan tulisan Kookkaburra ini, Kookkaburra berharap akan banyak terjadi bookcrossing di Indonesia yang mungkin bisa dijadikan benang merah untuk mempersatukan para KoKier. Atau bahkan menyebarkan DAMAI, seperti yang diungkapkan oleh Mary-Joe dalam “A Bookish Life: A Confessions of a Bibliocholic,” Thanks, BookCrossing, for such a great international community! Maybe if there were more BookCrossers in the world, we could spread peace, and not war! Semoga, dan salah satu new year’s resolusion-nya Kookkaburra adalah lebih sering bersilahturahmi di KoKi dan di bookcrossing – mudah-mudahan.

(Diterbitkan di KoKi edisi New Year's Resolution! Selasa 02 January 2007 14:41 wib)

Note: One photo added by Mbah MD.