~ Mbah MD - Old Gum Tree ~
Sesuai dengan anjuran seorang MD (Medical Doctor) yang mengkhawatirkan keadaan Kursi, dan untuk menenangkan hati LR, teman Kookkaburra semasa hidupnya, akhirnya pada hari Sabtu 'kemarin' Mbah membawa Kursi ke NEW Gum Tree untuk memperoleh terapi alam yang istilah medisnya adalah "the cure."
Kebetulan pada akhir pekan itu, di New Gum Tree, ada kegiatan tahunan yang sedang berlangsung selama dua hari. Kami (Mbah dan Kursi) pun kemudian memutuskan untuk melakukan perjalanan pada Hari Sabtu. Bis Sekolah yang berwarna Merah Djamboe menurunkan kami tepat di depan arena kegiatan tersebut.
Jam belum menunjukkan angka sebelas yang merupakan jam dimulainya kegiatan itu. Maka kami mengambil kesepakatan untuk masuk ke dalam Taman New Gum Tree yang letaknya hanya sepenggalah dari tempat perhelatan itu diadakan.
Sebenarnya, Kursi juga mempunyai keinginan untuk menguji berapa banyak sebenarnya kapasitas sebuah kursi dalam menampung penumpang. Akhirnya, kami mengamati bangku-bangku yang ada di taman terutama yang berada di seputar Kolam SuSu. Selain itu, kami juga menghitung jumlah orang yang menduduki bangku pada saat yang bersamaan.

Di salah satu sudut Kolam SuSu, ada seorang
Pria yang tampaknya sangat betah duduk di satu bangku. Dia sedang asyik membaca buku, ditemani sekelompok Merpati termasuk
Meri~E~ (Meri = Merpati) yang, seperti biasa, sangat inkuisitif.
Pria yang sesekali diganggu oleh merpati itu tampak menikmati keberadaan dan komunikasi yang terjalin diantara dirinya, buku yang dibacanya, dan keriangan Meri-meri yang mengelilinginya.
Di sudut sebelah kiri Kolam, ada sepasang kekasih yang duduk dengan mesranya sambil menikmati mentari pagi. Entah apa yang mereka perbincangkan, yang pasti bahasa tubuh mereka menyiratkan makna. Mereka kelihatan sangat menikmati kebersamaan itu.

Sederetan bangku yang berhadapan dengan Kolam SuSu masing-masing ditempati dengan satu, dua dan tiga orang. Hari itu hari Sabtu. Pantas saja ramai. Bangku-bangku di taman itu nyaris terisi semuanya. Ada hukum tak tertulis untuk tidak menduduki kursi yang sedang diduduki orang. Kalaupun terpaksa karena tak ada pilihan lain, ada saja orang-orang 'sopan' yang bertanya apakah dia boleh duduk di bangku yang sama. Di tempat umum seperti taman, jarang sekali orang bertanya
"Is this seat taken?" apabila mereka mau duduk di sisi bangku yang benar-benar kelihatan kosong.

Tak jauh dari kursi dimana dua sejoli tadi duduk, terlihat ada empat orang yang menduduki sebuah bangku. Sepertinya mereka mempunyai hubungan keluarga satu sama lain. Apakah empat merupakan jumlah maksimal yang dapat dimuati oleh satu bangku? Apakah jumlah tersebut membuat orang yang menduduki dan yang diduduki merasa nyaman dan aman? Sepertinya memang demikian adanya. Mereka dapat 'melepaskan' sedikit beban yang mereka bawa atau yang mereka kenakan seperti jaket atau botol minuman yang mereka bawa agar supaya mereka dapat duduk dan begerak dengan lebih leluasa.

Nun dekat sebatang pohon yang rindang, kami melihat sekelompok ibu-ibu. Satu, dua, tiga, empat dan lima! Ternyata lima orang masih dapat ditampung oleh satu kursi. Sementara itu orang-orang yang duduk pun masih merasa nyaman. Apakah kunci dari 'kenyamanan' itu? Salah seorang dari dari lima perempuan yang duduk di bangku itu hanya menduduki sebagian dari kursi dan tampak menikmati posisinya dan komunikasi yang tengah berlangsung.
Setelah memperhatikan tingkah-polah orang-orang yang menikmati suasana di Taman New Gum Tree, Kursi kelihatan sangat puas dan merasa nyaman. MD benar, kunjungan ke taman sungguh bersifat teraputik. Anjurannya sangat mandjur-djur-djur-djur. Sepertinya keadaan Kursi sudah jauh lebih baik dan kamipun bersiap-siap menuju lapangan dimana acara sudah dimulai.
Baru saja kami mau berkemas-kemas, kami didatangi
Meri CokRat dan Meri Ireng. Mereka sedang membicarakan sesuatu, tepat di depan bangku dimana kami duduk. Ternyata mereka sedang membicarakan kursi kosong yang baru saja kami duduki.
Meri Ireng: CokRat, eloe tau nggak, gimana caranya manjat Kursi?
Meri CokRat: Ireng, Ireng ... nyang gituan aja ditanya. Emang kagak diajarin ame emak loe waktu loe masih orok? Ato ame pasangan eloe, pas abis loe bilang, Yes, I do?
Meri Ireng: Kursi nyang ini laen, Rat. Lagi berobat jalan. Pegangan tangannya dulu pernah patah berat, gw kagak berani ...
Meri CokRat: Just do it!
Meri Ireng: Apa? Duit? Fulus?
Meri CokRat: Ngaco loe ...
Meri Ireng: Hehehe ... gw kan becanda! (Katanya dengan malu ati sampai merem-melek.) Gw nanya-nya sirius nech.
Meri CokRat: Lha sayap eloe masih lurus, belon bengkok ato patah, apalagi terbakar angus gitu, kagak berani manjat? Just do it and relax! The rest will take care of itself.
Secara spontan Mbah menimpali: Just do it, lakoni aja. Que sera sera ...
Dan sepertinya itulah yang dilakukan Meri Ireng, memanjat ... Kami segera bergegas pergi dan tak tahu yang terjadi selanjutnya.
Beberapa saat kemudian kami sudah berada di arena dan menikmati keramaian yang ada. Kami baru saja melampaui beberapa stand, ketika tiba-tiba ... kaki Kursi kesandung sesuatu. Brruuuk! Ada apa gerangan? Ternyata Kursi tersandung papan pajangan, dimana tergantung beberapa jam dinding, salah satunya adalah 'jam CHE' (perhatikan di pojok kiri dekat 'bendera' Amerika).

Sambil berteriak "au, au, au," secara tak sengaja mata Kursi kembali terbentur dengan sosok Che, kali ini tepat di sebelah Union Jack.

Ban(d)anas ..., anyone?
Maaf, ceritanya kepotong sampai disini, kaki Kursi perlu mendapat perawatan.
Pagi juga Mbah..kek nya antara aye ama japie lebih baik tetap menjadi kekasih gelap aja deh biar nggak "hamil"..wakakaka..iye japie dan aye kangen ama KooK.Mungkin KooK nggak nongol gara2 aye usil kali ye,nebak-nebak kelaminnya padahal aye bencada..hiks..aye nyesel deh jadinya,mudah2an cucu Mbah gak marah ame aye..kalau ketemu cucunya salam deh *cup* dari aye. June 21, 2008 4:53 PM